Kerja di perusahaan orang untuk sementara ini menjadi pilihan yang tidak bisa tidak harus tetap dilakoni. Demi menjaga stabilitas dan kelangsungan perjalanan hidup sebelum sampai di tempat yang selama ini dicita-citakan. Tak apalah, dari pada tak ada kerjaan kata orang..hehehehe. Bagi sebagin orang bekerja di Bank merupakan cita-cita, soalnya bisa pake baju rapi, wangi, kemana-mana naik mobil, tempatnya oang nyimpen duit dst. Bagi saya pribadi tak ada bedanya kerja di bank atau diperusahaan lain. Tak ada bedanya karena masih juga terima gaji, masih juga pergi pagi pulang sore, meeting tiap hari, habis bulan habis juga duit, kegiatan orang standar menjadi orang gajian.
Namun demikian, setelah saya pikir dan renungkan, tak ada jeleknya juga bekerja di perusahaan orang untuk waktu ini. Selain dapat gaji dan tunjangan tenyata di perusahaan tempat saya bekerja ada banyak ilmu yang bisa di pelajari, ada banyak pelajaran yang bisa digunakan untuk nantinya apabila saya harus menjalankan perusahaan sendiri. Semua ilmu danpelajaran itu hanya bisa diserap dengan cara membuka hati dan mata lebar-lebar, pasang telinga yang tajam dan yang paling penting adalah mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan. Jadi hari ini adalah hari yang penuh dengan catatan tentang perusahaan orang lain, dan hari esok adalah hari yang penuh dengan catatan mengenai perusahaan saya sendiri.
Okelah yaa…kita mau mulai dari mana ini? Terus terang saja, dalam hal tulis menulis saya ini jauh dari bisa, jauh dari jago, jadi jika nanti tulisan ini agak-aneh, ngawur dan rada-rada nyeleneh..ya harap maklum ajalah, lha wong tulisannya ini cuma apa adanya, tanpa aturan yang baku, tanpa teori, ga pake rumus, yang penting bisa dibaca dan bisa bikin orang ketawa..(lho apa hubungannya coba..??) hehehehehe.
Bank Mega (bukan Bank-nya Megawati lho ya… Kebetulan aja ada kemiripan nama, sperti Mega kuningan, Mega Mall.) adalah Bank swasta murni yang baru melebarkan sayapnya di daerah dimana saya tinggal. Dulu sebelum saya bergabung dengan perusahaan ini saya pikir bank ini punyanya Megawati, mantan presiden RI dulu, ternyata bukan..hehehehe. Setelah denger cerita-sana-sini yang punya itu namanya Chairul Tanjung (beda nama belakang dengan saya Khairul Ula….hehehehe). Chairul Tanjung ini sering disingkat CT, pemilik Trans TV, Trans 7, Carefour, Para Finance, Mega Syariah dan banyak perusahaan lain yang katanya CT sendiri sebagai pemiliknya suka lupa, total ada 18 perusahaan yang berdiri dan akan terus berkembang alias nambah banyak lagi….hehehehe.
CT sendiri sebagai pemilik perusahaan ternyata masih juga makan gaji dari bekerja diperusahaannya sendiri…lucu ya ? Keuntungan perusahaan yang sekian banyak itu di gunakan untuk bikin perusahaan baru dan bikin perusahaan baru lagi. Bisa dibayangi kalo seorang CT yang punya 18 perusahaan dan semuanya menghasilkan duit…kog mau-maunya masih kerja dan makan gaji. Coba kalo kita yang punya perusahaan, ga usah 18 cukup 3 aja..dijamin pasti sudah ongkang-ongkang kaki, duduk santai dan jalan-jalan belanja di luar negeri..dan kalo pikiran ga bener dikit..pasti larinya kawin lagi..!! hahahahahaha.
Dalam peta baru pengusaha besarnasional belakangan ini, namanya disebut sebagai the rising star.Pemilik Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis. Lompatan besar bermula ketika
ia mengambil alih Bank Mega. Namun di PBSI, sebagai Ketua Umum ia kurang
beruntung, dan memilih mundur. Ia digantikan Sutiyoso, Gubernur DKI dalam
Munaslub di Jakarta sabtu 17 Juli 2004
Badai krisis yang berlangsung sejak empat tahun lalu telah meluluh
lantahkan bangunan bisnis lama. Para pengusaha raksasa yang populer
disebut konglomerat satu demi satu telah berguguran. Tak hanya dari
kelompok nonpri, pengusaha besar dari kalangan pribumi pun hampir tak ada
yang terbebas dari lilitan masalah. Jika kini disusun sebuah daftar
kelompok usaha besar baru, misalnya dengan tolok ukur aset di atas Rp 1
triliun, petanya pasti telah jauh berubah dibanding sebelum krisis.
Belakangan ini, Chairul Tanjung adalah sosok pengusaha yang namanya paling
banyak disebut ketika berbicara mengenai peta baru pengusaha besar
nasional. Ia banyak disebut sebagai the rising star. Pengusaha pemilik
Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis yang spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis.
Lompatan besar bermula ketika
ia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu.
Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang
sebelumnya dikelola oleh kelompok Bappindo itu kemudian disulap menjadi
bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting
dalam menopang bangunan Para Group. Dua pilar lain adalah Trans TV dan
Bandung Supermall.
Sebagai sosok pengusaha sukses yang kini langka, Chairul dikalangan
teman-teman dekatnya sering dijuluki sebagai The Last of The Mohicans.
Sebutan ini mengacu pada sebuah judul film terkenal produksi Hollywood
beberapa tahun lalu yang menceritakan kisah penaklukan kaum kulit putih
terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat sana. Pada akhirnya, bangsa asli
yang sebelumnya menjadi tuan tanah dan penguasa wilayah itu kemudian
semakin terpinggir dan menjadi sosok langka. Namanya saja sebutan berbau
joke sehingga tetap atau tidak penting.
Yang jelas Chairul bukan tergolong pengusaha “dadakan” yang sukses berkat
kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis
selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh
tahun kemudian ia telah memiliki sebuauh kelompok usaha yang disebut Para
Group. Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari
Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia
mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor. “Dengan
bekal kredit tersebut saya belikan 20 mesin jahit merek Butterfly,”
ujarnya suatu saat kepada Eksekutif.
Kini pengusaha kelahiran 16 Juni 1962 itu menjadi figur sukses yang sangat
sibuk. Ketika Eksekutif meminta kesempatan untuk sebuah wawancara khusus,
ia mengaku kerepotan untuk memilih waktu yang tepat. Meklum, selain sibuk
mengurus bisnis, pria satu ini juga punya segudang kegiatan kemasyarakatan.
Sebelum terpilih menjadi ketua umum PB PBSI beberapa waktu lalu, Chairul
telah aktif di berbagai organisasi sosial seperti PMI, Komite Kemanusiaan
Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan
sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan
sosial kemasyarakatan,” ungkapnya. (Tokoh Indonesia, Repro Eksekutif No.
269)
Warta Ekonomi 28 Desember 2005 menganugerahi Chairul Tanjung,
Komisaris Utama Grup Para sebagai salah seorang tokoh bisnis paling
berpengaruh tahun 2005. Prestasinya, dinilai tak sesederhana
penampilannya. Tiga pilihan bidang bisnisnya, keuangan, properti, dan
multimedia, menunjukkan kinerja yang nyaris sempurna. Chairul Tanjung
adalah rising star.
Sulit membayangkan seorang dokter gigi terjun bebas ke dunia bisnis.
Namun, tidak bagi Chairul Tanjung, komisaris utama Grup Para. Semasa
kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, Chairul muda sudah mulai berani
berjualan untuk mengasah kemampuannya berbisnis. Nalurinya kian terarah
ketika bisnis sepatunya, yang memperoleh pinjaman dari Bank Exim, makin
berkembang.
Orang nomor satu di Grup Para ini adalah sosok yang bersahaja.
Penampilannya sederhana, tetapi sangat tajam dalam menerjemahkan visi
bisnisnya. Chairul mereposisikan kelompok usahanya dalam tiga bisnis
inti: keuangan, properti, dan multimedia.
Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya
menjadi Bank Mega. Kini bank ini menjadi salah satu bank papan atas.
Hingga September 2005, Bank Mega memiliki nilai buku asetnya mencapai
Rp1,5 triliun. Tahun 2005 ini sejumlah investor asing dari Eropa dan AS
sudah mengajukan surat resmi untuk membeli saham Bank Mega seharga tiga
kali lipat dari nilai bukunya. Selain bank, Chairul juga memiliki
perusahaan sekuritas dan mulai merambah bisnis asuransi jiwa dan
kerugian.
Di bisnis properti, pria kelahiran Jakarta ini mempunyai Bandung
Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana Rp99 miliar. Itu
pun belum semua area dibangun. Rencananya, di sisa lahan 8 hektar ia
akan membangun hotel, restoran, dan bangunan pendukung lainnya.
Bisnis Chairul yang paling moncer adalah Trans TV dengan 21 menara yang
mencakup seluruh Jawa, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan
Papua. Pada akhir 2005 dia berharap seluruh Indonesia bisa di-cover,
dengan menambah menara sampai 31—32. Investasi untuk satu menara
diperkirakan Rp3—5 miliar. Chairul sangat optimistis di bisnis ini
karena melihat belanja iklan nasional sudah mencapai Rp6 triliun, dengan
70% di antaranya akan masuk ke TV.
Ia pun berencana mendirikan stasiun radio dan media online atau satelit.
Target lainnya adalah bersiap masuk ke media cetak. Dua-tiga tahun
setelah Trans TV mendapatkan keuntungan, ia berencana melepas 20%—30%
sahamnya ke pasar modal. Dana hasil IPO ini akan ia alokasikan untuk
pengembangan usaha dan membayar utang.
Saking banyaknya, Chairul mengaku sampai tak tahu berapa jumlah
perusahaannya. Namun, yang jelas, Grup Para mempunyai Para Inti Holdindo
sebagai holding company, yang membawahkan beberapa subholding: Para
Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan
investasi), dan Para Inti Propertindo (properti). Kini ia mempekerjakan
5.000 karyawan. Luar biasa.
| CHAIRUL TANJUNG HOME |
► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► NANTIKAN TAMPILAN BARU TOKOHINDONESIA.COM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya “rumah pribadi” di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
► Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site ► NANTIKAN TAMPILAN BARU TOKOHINDONESIA.COM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya “rumah pribadi” di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
|
|
 |
Chairul Tanjung
“The Rising Star”
Dalam peta baru pengusaha besar
nasional belakangan ini, namanya disebut sebagai the rising star.
Pemilik
Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis. Lompatan besar bermula ketika
ia mengambil alih Bank Mega. Namun di PBSI, sebagai Ketua Umum ia kurang
beruntung, dan memilih mundur. Ia digantikan Sutiyoso, Gubernur DKI dalam
Munaslub di Jakarta sabtu 17 Juli 2004
Badai krisis yang berlangsung sejak empat tahun lalu telah meluluh
lantahkan bangunan bisnis lama. Para pengusaha raksasa yang populer
disebut konglomerat satu demi satu telah berguguran. Tak hanya dari
kelompok nonpri, pengusaha besar dari kalangan pribumi pun hampir tak ada
yang terbebas dari lilitan masalah. Jika kini disusun sebuah daftar
kelompok usaha besar baru, misalnya dengan tolok ukur aset di atas Rp 1
triliun, petanya pasti telah jauh berubah dibanding sebelum krisis.
Belakangan ini, Chairul Tanjung adalah sosok pengusaha yang namanya paling
banyak disebut ketika berbicara mengenai peta baru pengusaha besar
nasional. Ia banyak disebut sebagai the rising star. Pengusaha pemilik
Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis yang spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis.
Lompatan besar bermula ketika
ia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu.
Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang
sebelumnya dikelola oleh kelompok Bappindo itu kemudian disulap menjadi
bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting
dalam menopang bangunan Para Group. Dua pilar lain adalah Trans TV dan
Bandung Supermall.
Sebagai sosok pengusaha sukses yang kini langka, Chairul dikalangan
teman-teman dekatnya sering dijuluki sebagai The Last of The Mohicans.
Sebutan ini mengacu pada sebuah judul film terkenal produksi Hollywood
beberapa tahun lalu yang menceritakan kisah penaklukan kaum kulit putih
terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat sana. Pada akhirnya, bangsa asli
yang sebelumnya menjadi tuan tanah dan penguasa wilayah itu kemudian
semakin terpinggir dan menjadi sosok langka. Namanya saja sebutan berbau
joke sehingga tetap atau tidak penting.
Yang jelas Chairul bukan tergolong pengusaha “dadakan” yang sukses berkat
kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis
selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh
tahun kemudian ia telah memiliki sebuauh kelompok usaha yang disebut Para
Group. Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari
Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia
mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor. “Dengan
bekal kredit tersebut saya belikan 20 mesin jahit merek Butterfly,”
ujarnya suatu saat kepada Eksekutif.
Kini pengusaha kelahiran 16 Juni 1962 itu menjadi figur sukses yang sangat
sibuk. Ketika Eksekutif meminta kesempatan untuk sebuah wawancara khusus,
ia mengaku kerepotan untuk memilih waktu yang tepat. Meklum, selain sibuk
mengurus bisnis, pria satu ini juga punya segudang kegiatan kemasyarakatan.
Sebelum terpilih menjadi ketua umum PB PBSI beberapa waktu lalu, Chairul
telah aktif di berbagai organisasi sosial seperti PMI, Komite Kemanusiaan
Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan
sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan
sosial kemasyarakatan,” ungkapnya. (Tokoh Indonesia, Repro Eksekutif No.
269)
Tokoh Bisnis
Warta Ekonomi 28 Desember 2005 menganugerahi Chairul Tanjung,
Komisaris Utama Grup Para sebagai salah seorang tokoh bisnis paling
berpengaruh tahun 2005. Prestasinya, dinilai tak sesederhana
penampilannya. Tiga pilihan bidang bisnisnya, keuangan, properti, dan
multimedia, menunjukkan kinerja yang nyaris sempurna. Chairul Tanjung
adalah rising star.
Sulit membayangkan seorang dokter gigi terjun bebas ke dunia bisnis.
Namun, tidak bagi Chairul Tanjung, komisaris utama Grup Para. Semasa
kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, Chairul muda sudah mulai berani
berjualan untuk mengasah kemampuannya berbisnis. Nalurinya kian terarah
ketika bisnis sepatunya, yang memperoleh pinjaman dari Bank Exim, makin
berkembang.
Orang nomor satu di Grup Para ini adalah sosok yang bersahaja.
Penampilannya sederhana, tetapi sangat tajam dalam menerjemahkan visi
bisnisnya. Chairul mereposisikan kelompok usahanya dalam tiga bisnis
inti: keuangan, properti, dan multimedia.
Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya
menjadi Bank Mega. Kini bank ini menjadi salah satu bank papan atas.
Hingga September 2005, Bank Mega memiliki nilai buku asetnya mencapai
Rp1,5 triliun. Tahun 2005 ini sejumlah investor asing dari Eropa dan AS
sudah mengajukan surat resmi untuk membeli saham Bank Mega seharga tiga
kali lipat dari nilai bukunya. Selain bank, Chairul juga memiliki
perusahaan sekuritas dan mulai merambah bisnis asuransi jiwa dan
kerugian.
Di bisnis properti, pria kelahiran Jakarta ini mempunyai Bandung
Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana Rp99 miliar. Itu
pun belum semua area dibangun. Rencananya, di sisa lahan 8 hektar ia
akan membangun hotel, restoran, dan bangunan pendukung lainnya.
Bisnis Chairul yang paling moncer adalah Trans TV dengan 21 menara yang
mencakup seluruh Jawa, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan
Papua. Pada akhir 2005 dia berharap seluruh Indonesia bisa di-cover,
dengan menambah menara sampai 31—32. Investasi untuk satu menara
diperkirakan Rp3—5 miliar. Chairul sangat optimistis di bisnis ini
karena melihat belanja iklan nasional sudah mencapai Rp6 triliun, dengan
70% di antaranya akan masuk ke TV.
Ia pun berencana mendirikan stasiun radio dan media online atau satelit.
Target lainnya adalah bersiap masuk ke media cetak. Dua-tiga tahun
setelah Trans TV mendapatkan keuntungan, ia berencana melepas 20%—30%
sahamnya ke pasar modal. Dana hasil IPO ini akan ia alokasikan untuk
pengembangan usaha dan membayar utang.
Saking banyaknya, Chairul mengaku sampai tak tahu berapa jumlah
perusahaannya. Namun, yang jelas, Grup Para mempunyai Para Inti Holdindo
sebagai holding company, yang membawahkan beberapa subholding: Para
Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan
investasi), dan Para Inti Propertindo (properti). Kini ia mempekerjakan
5.000 karyawan