Usaha sampingannya orang gajian

Menjadi orang gajian tidak selamanya jelek, bahkan bagi sebagian orang hal  itu menjadi tujuan utama hidup. Buktinya, saat pendaftaran pegawai dibuka, orang berbondong-bondong mendaftar. Dari keinginan menjadi PNS sampai pagawai swasta, loket pendaftarannya penuh sesak. Dari yang masuknya gratis-tis ..sampai yang bayar dengan nilai ratusan juga. Apa mau dibilang, karena memang itulah jalan pintas mendapat penghasilan, tanpa modal besar (kecuali masuk PNS yang bayar uang pelicin 100juta…hehehehe). Sementara pemerintah sendiri sampai ini belum bisa menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi anak negeri.

Saya sendiri saat ini juga masih jadi orang gajian, walaupun dengan separo hati karena separo hati lainnya tertambat dengan yang profesi yang bernama “pengusaha”. Sudah beberapa kali pindah perusahaan, dari perusahaan milik perseorangan, Bank Pemerintah, Perusahaan Pembiayaan Modal Ventura, Pabrik  Sawit dan kini Bank Swasta Murni yang bernama Bank MEGA..heehehehe. (kog ketawa?). Lucu aja…pengen jadi pengusaha kog malah masih betah jadi orang gajian…aneh….!!   Kalo kata orang jawa mestinya kan  ndang..dadi-o pengusaha…(segera lah jadi pengusaha) mau tunggu apalagi, semakin cepet semakin baik tho?

Iya..iya…ngerti. dari dulu juga pengennya jadi pengusaha sukses, cuma yang jadi masalah untuk jadi sukses itu ga bisa sekejap, hari ini buka usaha besok pagi langsung sukses berkibar-kibar..laksana bendera 17 agustusan …..hehehehe. Butuh proses, butuh pengorbanan, butuh pembelajaran. Bicara soal pembelajaran sebelum ini juga sudah beberapa jenis usaha yang pernah dicoba dan dilakoni, mulai dari handycraft, buka restoran, buka warung, jualan dipinggir jalan, dan yang terakhir ini adalah air minum isi ulang dan warnet. bagian yang pertama dulu ngelakoninya saat masih dijogja, saat masih kuliah dan menjelang akhir masa kuliah. Coba ngelakoni kata orang jawa, yang pada buntutnya  ngelakoninya berakhir juga …….. hahahahaha. Setelah menikah kembali coba buka usaha dengan modal hasil pinjaman dari perusahaan tempat bekerja, jadilah depot air minum isi ulang yang hingga saat ini masih berjalan. Disamping menjalankan depot air minum isi ulang tadi…ceritanya niii…coba juga diversifikasi usaha dengan buka warnet, karena melihat usah warnet kog lagi IN..alias menjamur..untuk yang satu ini modalnya ga begitu besar, namun demikian tetap aaja…yang namanya modal itu ya duuiittt….juuga.

Bekerja sama dengan sorang temen yang profesinya sebagai PNS yang punya modal tempat, akhir jadi juga buka warnet. Bertahan 3 bulan trus mandeg sampe sekarang…hehehehehehe. Bukan salah siapa-siapa karena memang yang punya usaha masih berprofesi sebagai orang gajian, sehingga waktu buat ngurusin bisnis bersama sedikit sekali, disamping modal yang juga terbatas. Menyesal dan merasa rugi….?? Ya ..ga juga..karena dari dulu sudah capek rugi melulu..jadi kebal hehehehehe. Ibarat orang mancing ikan..ya siap-siap untuk tidak dapat ikan. Kalo pasti mau dapat ikan ya belanja aja ke pasar ikan…beli ikannya..dijamin dapet…heheheheh.

Hhhhhhh…gitulah, yang jelas langkah harus tetap diayun, sepeda harus tetap dikayuh,biar tempatnya bisa pindah,  kalo enggak ya jalan ditempat ga akan pindah. Sementara masih jadi orang gajian…persiapan untuk buka usaha masih terus jalan juga, masih terus mencoba juga….Ga takut gagal lagi…?? Ya …. gimana caranya biar ga gagal lah…masa gagal terus..?? hehehehehe.

Untuk yang satu ini harus berhasil, karena modalnya udah keluar ratus juta, udah bikin ruko dipinggir jalan, jadi kalo gagal juga guobloook..bener namanya..heheheh. Insyaallah berhasil lah..karena niatnya juga udah beda. Niat ibadah karena Allah SWT dan mudah-mudahan sukses.

Jadi apa untungnya saat ini masih jadi orang gajian..?? Ya tetap aja ada untungnya sementara status sebagai pengusaha belum ada di pundak, status sebagai pegawai Bank masih melekat, sehingga dari sisi psikologis sangat membantu. Coba bayangkan kalo jadi pengusaha belum tapi status sebagai orang gajian juga dilepas, ya repot juga, minimlah tiap bulan masih ada pemasukan ruitn untuk menutup biaya-biaya yang harus dikeluarkan seperti tagihan telfon, sembako, listrik dll. Sebagai orang gajian paling ga masih bisa juga sedekah ..sedikit-sedikit, karena jatahnya emang sedikit..hehehehe. Mudah-mudah saja kesampaian cita-cita untuk bisa sedekah lebih banyak tiap harinya, makanya saya selalu berdoa…Ya Allah…yang maha pemurah, hamba ingin bersedekah 100 ribu tiap hari, kemudian 500 ribu tiap hari, oleh karena itu jadikan hamba pengusaha yang punya penghasilan sepuluh kali lipat dari sedekah hamba….:)

Boleh tho minta begitu…boooleh …lha wong Gusti Allah itu Maha Pemurah, Maha Kaya kog, dan  bukan hal yang mustahil bagi Allah untuk memberi hambanya rejeki senilai itu..kecciiillll. Trus..boleh ga kita berharap lebih dari Allah..?? Boooleh..wajib malah..yang ga boleh dan haram itu adalah berharap kepada selain Allah, musrik namanya. Soalnya Allah sendiri bilang kog…Barang siapa yang membelanjakan hartanya di jalanKu, nsicaya Aku akan menggantinya dengan nilai berlipat ganda. Naahh….apa lagi…??

Katanya bersedekah itu harus ikhlas, ga berharap balasan…?? Ya bener…ikhlas karena Allah, jangan berharap balasan dari manusia atau yang lain, berharap saja Allah yang membalas. Kalo ga boleh berharap balasan untuk apa Allah mengiming-imingi surga sebagai balasan bagi orang yang berbuat baik…hayyyoo..??. Surga..lhoo…itu balasan dari Allah untuk umatnya yang berbuat baik, berbuat baik kepada Allah dan kepada sesama makhluk Allah. Kalo ada orang yang bilang bahwa dia baru mau bersedekah setelah ikhlas..itu namanya cuma cari -cari alasan aja untuk tidak bersedekah. Yang penting lakukan dulu, ikhlas ga ikhlas ..sedekah aja, nanti lama-lama juga ikhlas dengan sendirinya. Ikhlas ga ikhlas..sedekah yang kita beri pasti juga dibalas oleh Allah…iya gaaa..??? Ibarat orang naek sepeda…pertama-tama ya belajar dulu, setelah bisa dikit-dikit baru terasa enak, setelah mahir sekali baru terasa nikmatnya..kalo sudah gitu…ga usah mikir lagi..tinggal nyyuuussss…..jalan dengan sendirinya…hehehhe

Hari ini masih jadi orang gajian, bisa belajar sistem usaha di tempat kita bekerja> Belajar soal pembukuan, manajemen, integritas, target dan perhitungan, proyeksi, ,punya relasi yang buanyaak…….tau karakter orang yang beraneka ragam dan macem-macem lagi…. Selama bisa membaca keadaan, menyerap ilmu dan menjadikannya sebagai bekal dikemudian hari….rasanya sah-sah saja untuk saat ini menjadi orang gajian, sebelum menegakkan bendera sendiri sebagai PENGUSAHA………..setuju yaa..??

Integritas 2

Nyambung tulisan yang pertama masalah integritas, kalo bahasa jawanya Jati Diri, sak jatining diri..hehehehe. Integritas erat kaitannya dengan falsafah hidup dan nilai-nilai kehidupan yang dianut oleh seseorang. Falsafah hidup yang dianut oleh seseorang biasanya juga terkait erat dengan seberapa besar keyakinan orang itu terhadap Kemurahan Yang Maha Pemberi Hidup kepada dirinya.

Integritas dapat muncul dan tumbuh dari lingkungan  dimana orang itu tinggal. Jika lingkungan tempat dia tinggal dan tumbuh di penuhi oelh orang-orang yang mempunyai integritas tinggi maka peluang besar bagi orang itu untuk juga memiliki integritas yang tinggi demikian juga sebaliknya. Ibarat kata pepatah berteman dengan penjual minyak wangi badan kita pun akan kecipratan wanginya, berteman dengan penjual ikan maka badan kita pun akan ketularan bau ikan, tapi bukan berarti penjual ikan itu jelek lho yaa..hahahah

Kembali kecerita CT (Chairul Tanjung), dia adalah salah satu dari sedikit orang yang memiliki integritas tinggi, yang setia dengan nilai nilai luhur dan kejujuran, yang memulai bisnisnya dengan jalan merangkak, tidak mengandalkan nepotisme atau kolusi sebagai mana yang dilakukan oleh pebisnis lain. CT membuktikan bahwa orang yang mempunyai itegritas dan jujurlah yang akhirnya menang. Jujur terhadap diri sendiri, bahwa semua keberhailan memang harus di mulai dari nol, dari perjuangan yang berat dan melelahkan.

Mestinya jika berpikir lateral CT itu ndak boleh jadi pengusaha lha wong dia lulus dari fakultas kedokteran gigi, mestinya ya jadi dokter gigi atau-apes-apesnya jadi tukang gigi lah ….hahahaha. Kan enak tuh, lulus bisa langsung kerja, dibayar orang duitnya banyak. Tapi kenapa kog malah milih jadi pengusaha yang semuanya serba tidak pasti, banyak gagalnya, rekoso, sulit, yang pasti ga enaaakkk….(sebelum sukses lho ya..hahahahah)

Kalopun CT itu sudah punya perusahaan yang banyak seperti sekarang ini, itu juga butuh waktu yang tidak sebentar, luaamaaa..butuh kesabaran extra, butuh perjuangan keras, butuh porses yang panjang. Tapi kog masih mau gitu lhoooo………..??? Trus modalnya itu apa coba..?? Apa iya waktu buka usaha dulu CT punya modal besar, ternyata enggak … malah bisa dibilang modalnya dengkul..aja, asal bisa jalan hehehehehe

Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya – yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman – usaha itu bangkrut.

Tapi justru itu yang bikin CT semangat, gimana caranya harus bisa, harus sukses, lha wong hidupnya saat itu memang kefefet..kog ya..hahahaha. Justru karena kepepet itulah makanya dia berpikir bagaimana caranya supaya bisa bertahan hidup…..(bertahan hidup lho yaa..bukan bertahan kaya…). Dan ternyata ilmu kepepet (terdesak itu) yang dipakai oleh CT untuk merintis kerajaan bisnisnya hingga besar seperti saat ini.

Hal ini juga yang diajarkan oleh CT kepada para karyawannya yang berjumlah puluhan ribu, bahkan kepada anak kandungnya sendiri. Sampai saat ini belum terdengar kabar bahawa anaknya CT hidup enak dari hasil keringat bapaknya, yang ada anaknya juga harus kerja kalo mau dapat duit, anaknya harus berbuat sesuatu agar bisa memperoleh sesuatu juga. CT mendidik anaknya dengan keras agar selalu merasa kepepet setiap harinya.Sehinga dengan kondisi itu kemampuan terbaik dari anak akan muncul.

Hehehehe…capek juga cerita soal Chairul Tanjung, kebetulan aja saya bekerja salah satu perusahaan miliknya yang juga kebetulan buka didaerah saya, dan sekali lagi kebetulan juga karena saya suka dengan orang sukses yang dulunya juga sengsara dan serba kepepet sepeti saya..hahahaha.

Bay the way, omong-omong alias talking-talking..kesimpulan yang dapat dipetik dari cerita antah berantah tadi adalah bahwa unntuk jadi besar INTEGRITAS menjadi moal utama. Integritas disini bearti semangat yang tinggi, jujur, mau berjuang dari bawah dan setelah berhasil tetap rendah hati.

Semoga saya menjadi salah satu diantara CT-CT yang lain yang akan tumbuh di kemudian hari.

Integritas

Kerja di perusahaan orang untuk sementara ini menjadi pilihan yang tidak bisa tidak harus tetap dilakoni. Demi menjaga stabilitas dan kelangsungan perjalanan hidup sebelum sampai di tempat yang selama ini dicita-citakan. Tak apalah, dari pada tak ada kerjaan kata orang..hehehehe. Bagi sebagin orang bekerja di Bank merupakan cita-cita, soalnya bisa pake baju rapi, wangi, kemana-mana naik mobil, tempatnya oang nyimpen duit dst.  Bagi saya pribadi tak ada bedanya kerja di bank atau diperusahaan lain. Tak ada bedanya karena masih juga terima gaji, masih juga pergi pagi pulang sore, meeting tiap hari, habis bulan habis juga duit, kegiatan orang standar menjadi orang gajian.

Namun demikian, setelah saya pikir dan renungkan, tak ada jeleknya juga bekerja di perusahaan orang untuk waktu ini. Selain dapat gaji dan tunjangan tenyata di perusahaan tempat saya bekerja ada banyak ilmu yang bisa di pelajari, ada banyak pelajaran yang bisa digunakan untuk nantinya apabila saya harus menjalankan perusahaan sendiri. Semua ilmu danpelajaran itu hanya bisa diserap dengan cara membuka hati dan mata lebar-lebar, pasang telinga yang tajam dan yang paling penting adalah mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan. Jadi hari ini adalah hari yang penuh dengan catatan tentang perusahaan orang lain, dan hari esok adalah hari yang penuh dengan catatan mengenai perusahaan saya sendiri.

Okelah yaa…kita mau mulai dari mana ini? Terus terang saja, dalam hal tulis menulis saya ini jauh dari bisa, jauh dari jago, jadi jika nanti tulisan ini agak-aneh, ngawur dan rada-rada nyeleneh..ya harap maklum ajalah, lha wong tulisannya ini cuma apa adanya, tanpa aturan yang baku, tanpa teori, ga pake rumus, yang penting bisa dibaca dan bisa bikin orang ketawa..(lho apa hubungannya coba..??) hehehehehe.

Bank Mega (bukan Bank-nya Megawati lho ya… Kebetulan aja ada kemiripan nama, sperti Mega kuningan, Mega Mall.) adalah Bank swasta murni yang baru melebarkan sayapnya di daerah dimana saya tinggal. Dulu sebelum saya bergabung dengan perusahaan ini saya pikir bank ini punyanya Megawati, mantan presiden RI dulu, ternyata bukan..hehehehe. Setelah denger cerita-sana-sini yang punya itu namanya Chairul Tanjung (beda nama belakang dengan saya Khairul Ula….hehehehe). Chairul Tanjung ini sering disingkat CT, pemilik Trans TV, Trans 7, Carefour, Para Finance, Mega Syariah dan banyak perusahaan lain yang katanya CT sendiri sebagai pemiliknya suka lupa, total ada 18 perusahaan yang berdiri dan akan terus berkembang alias nambah banyak lagi….hehehehe.

CT sendiri sebagai pemilik perusahaan ternyata masih juga makan gaji dari bekerja diperusahaannya sendiri…lucu ya ? Keuntungan perusahaan yang sekian banyak itu di gunakan untuk bikin perusahaan baru dan bikin perusahaan baru lagi. Bisa dibayangi kalo seorang CT yang punya 18 perusahaan dan semuanya menghasilkan duit…kog mau-maunya masih kerja dan makan gaji. Coba kalo kita yang punya perusahaan, ga usah 18 cukup 3 aja..dijamin pasti sudah ongkang-ongkang kaki, duduk santai dan jalan-jalan belanja di luar negeri..dan kalo pikiran ga bener dikit..pasti larinya kawin lagi..!! hahahahahaha.

Dalam peta baru pengusaha besarnasional belakangan ini, namanya disebut sebagai the rising star.Pemilik Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis. Lompatan besar bermula ketika
ia mengambil alih Bank Mega. Namun di PBSI, sebagai Ketua Umum ia kurang
beruntung, dan memilih mundur. Ia digantikan Sutiyoso, Gubernur DKI dalam
Munaslub di Jakarta sabtu 17 Juli 2004

Badai krisis yang berlangsung sejak empat tahun lalu telah meluluh
lantahkan bangunan bisnis lama. Para pengusaha raksasa yang populer
disebut konglomerat satu demi satu telah berguguran. Tak hanya dari
kelompok nonpri, pengusaha besar dari kalangan pribumi pun hampir tak ada
yang terbebas dari lilitan masalah. Jika kini disusun sebuah daftar
kelompok usaha besar baru, misalnya dengan tolok ukur aset di atas Rp 1
triliun, petanya pasti telah jauh berubah dibanding sebelum krisis.

Belakangan ini, Chairul Tanjung adalah sosok pengusaha yang namanya paling
banyak disebut ketika berbicara mengenai peta baru pengusaha besar
nasional. Ia banyak disebut sebagai the rising star. Pengusaha pemilik
Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis yang spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis.

Lompatan besar bermula ketika
ia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu.
Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang
sebelumnya dikelola oleh kelompok Bappindo itu kemudian disulap menjadi
bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting
dalam menopang bangunan Para Group. Dua pilar lain adalah Trans TV dan
Bandung Supermall.

Sebagai sosok pengusaha sukses yang kini langka, Chairul dikalangan
teman-teman dekatnya sering dijuluki sebagai The Last of The Mohicans.
Sebutan ini mengacu pada sebuah judul film terkenal produksi Hollywood
beberapa tahun lalu yang menceritakan kisah penaklukan kaum kulit putih
terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat sana. Pada akhirnya, bangsa asli
yang sebelumnya menjadi tuan tanah dan penguasa wilayah itu kemudian
semakin terpinggir dan menjadi sosok langka. Namanya saja sebutan berbau
joke sehingga tetap atau tidak penting.

Yang jelas Chairul bukan tergolong pengusaha “dadakan” yang sukses berkat
kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis
selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh
tahun kemudian ia telah memiliki sebuauh kelompok usaha yang disebut Para
Group. Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari
Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia
mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor. “Dengan
bekal kredit tersebut saya belikan 20 mesin jahit merek Butterfly,”
ujarnya suatu saat kepada Eksekutif.

Kini pengusaha kelahiran 16 Juni 1962 itu menjadi figur sukses yang sangat
sibuk. Ketika Eksekutif meminta kesempatan untuk sebuah wawancara khusus,
ia mengaku kerepotan untuk memilih waktu yang tepat. Meklum, selain sibuk
mengurus bisnis, pria satu ini juga punya segudang kegiatan kemasyarakatan.
Sebelum terpilih menjadi ketua umum PB PBSI beberapa waktu lalu, Chairul
telah aktif di berbagai organisasi sosial seperti PMI, Komite Kemanusiaan
Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan
sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan
sosial kemasyarakatan,” ungkapnya. (Tokoh Indonesia, Repro Eksekutif No.
269)

Warta Ekonomi 28 Desember 2005 menganugerahi Chairul Tanjung,
Komisaris Utama Grup Para sebagai salah seorang tokoh bisnis paling
berpengaruh tahun 2005. Prestasinya, dinilai tak sesederhana
penampilannya. Tiga pilihan bidang bisnisnya, keuangan, properti, dan
multimedia, menunjukkan kinerja yang nyaris sempurna. Chairul Tanjung
adalah rising star.

Sulit membayangkan seorang dokter gigi terjun bebas ke dunia bisnis.
Namun, tidak bagi Chairul Tanjung, komisaris utama Grup Para. Semasa
kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, Chairul muda sudah mulai berani
berjualan untuk mengasah kemampuannya berbisnis. Nalurinya kian terarah
ketika bisnis sepatunya, yang memperoleh pinjaman dari Bank Exim, makin
berkembang.

Orang nomor satu di Grup Para ini adalah sosok yang bersahaja.
Penampilannya sederhana, tetapi sangat tajam dalam menerjemahkan visi
bisnisnya. Chairul mereposisikan kelompok usahanya dalam tiga bisnis
inti: keuangan, properti, dan multimedia.

Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya
menjadi Bank Mega. Kini bank ini menjadi salah satu bank papan atas.
Hingga September 2005, Bank Mega memiliki nilai buku asetnya mencapai
Rp1,5 triliun. Tahun 2005 ini sejumlah investor asing dari Eropa dan AS
sudah mengajukan surat resmi untuk membeli saham Bank Mega seharga tiga
kali lipat dari nilai bukunya. Selain bank, Chairul juga memiliki
perusahaan sekuritas dan mulai merambah bisnis asuransi jiwa dan
kerugian.

Di bisnis properti, pria kelahiran Jakarta ini mempunyai Bandung
Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana Rp99 miliar. Itu
pun belum semua area dibangun. Rencananya, di sisa lahan 8 hektar ia
akan membangun hotel, restoran, dan bangunan pendukung lainnya.

Bisnis Chairul yang paling moncer adalah Trans TV dengan 21 menara yang
mencakup seluruh Jawa, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan
Papua. Pada akhir 2005 dia berharap seluruh Indonesia bisa di-cover,
dengan menambah menara sampai 31—32. Investasi untuk satu menara
diperkirakan Rp3—5 miliar. Chairul sangat optimistis di bisnis ini
karena melihat belanja iklan nasional sudah mencapai Rp6 triliun, dengan
70% di antaranya akan masuk ke TV.

Ia pun berencana mendirikan stasiun radio dan media online atau satelit.
Target lainnya adalah bersiap masuk ke media cetak. Dua-tiga tahun
setelah Trans TV mendapatkan keuntungan, ia berencana melepas 20%—30%
sahamnya ke pasar modal. Dana hasil IPO ini akan ia alokasikan untuk
pengembangan usaha dan membayar utang.

Saking banyaknya, Chairul mengaku sampai tak tahu berapa jumlah
perusahaannya. Namun, yang jelas, Grup Para mempunyai Para Inti Holdindo
sebagai holding company, yang membawahkan beberapa subholding: Para
Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan
investasi), dan Para Inti Propertindo (properti). Kini ia mempekerjakan
5.000 karyawan. Luar biasa.

CHAIRUL TANJUNG HOME


Selamat datang di situs gudang pengalaman ENSIKONESIA (ENSIKLOPEDI
TOKOH INDONESIA) ► Thank you for visiting the experience site  ►
NANTIKAN TAMPILAN BARU TOKOHINDONESIA.COM  ► Biografi Jurnalistik   ►
The Excellent Biography  ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang
tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online  ► Anda
seorang tokoh? Sudahkah Anda punya “rumah pribadi” di Plasa Web Tokoh
Indonesia?  ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia
Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung,
Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi
Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12
Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun
Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu
Sukses dan Panjang Umur ►

Chairul Tanjung

“The Rising Star”

Dalam peta baru pengusaha besar
nasional belakangan ini, namanya disebut sebagai the rising star.
Pemilik
Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis. Lompatan besar bermula ketika
ia mengambil alih Bank Mega. Namun di PBSI, sebagai Ketua Umum ia kurang
beruntung, dan memilih mundur. Ia digantikan Sutiyoso, Gubernur DKI dalam
Munaslub di Jakarta sabtu 17 Juli 2004

Badai krisis yang berlangsung sejak empat tahun lalu telah meluluh
lantahkan bangunan bisnis lama. Para pengusaha raksasa yang populer
disebut konglomerat satu demi satu telah berguguran. Tak hanya dari
kelompok nonpri, pengusaha besar dari kalangan pribumi pun hampir tak ada
yang terbebas dari lilitan masalah. Jika kini disusun sebuah daftar
kelompok usaha besar baru, misalnya dengan tolok ukur aset di atas Rp 1
triliun, petanya pasti telah jauh berubah dibanding sebelum krisis.

Belakangan ini, Chairul Tanjung adalah sosok pengusaha yang namanya paling
banyak disebut ketika berbicara mengenai peta baru pengusaha besar
nasional. Ia banyak disebut sebagai the rising star. Pengusaha pemilik
Para Group ini berhasil melakukan lompatan bisnis yang spektakuler justru
ketika ekonomi masih dilanda badai krisis.

Lompatan besar bermula ketika
ia memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996 lalu.
Berkat tangan dinginnya, bank kecil dan sedang sakit-sakitan yang
sebelumnya dikelola oleh kelompok Bappindo itu kemudian disulap menjadi
bank besar dan disegani. Pada akhirnya bank ini pun menjadi pilar penting
dalam menopang bangunan Para Group. Dua pilar lain adalah Trans TV dan
Bandung Supermall.

Sebagai sosok pengusaha sukses yang kini langka, Chairul dikalangan
teman-teman dekatnya sering dijuluki sebagai The Last of The Mohicans.
Sebutan ini mengacu pada sebuah judul film terkenal produksi Hollywood
beberapa tahun lalu yang menceritakan kisah penaklukan kaum kulit putih
terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat sana. Pada akhirnya, bangsa asli
yang sebelumnya menjadi tuan tanah dan penguasa wilayah itu kemudian
semakin terpinggir dan menjadi sosok langka. Namanya saja sebutan berbau
joke sehingga tetap atau tidak penting.

Yang jelas Chairul bukan tergolong pengusaha “dadakan” yang sukses berkat
kelihaian membangun kedekatan dengan penguasa. Mengawali kiprah bisnis
selagi kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, sepuluh
tahun kemudian ia telah memiliki sebuauh kelompok usaha yang disebut Para
Group. Kelompok usaha ini dibangun berawal dari modal yang diperoleh dari
Bank Exim sebesar Rp 150 juta. Bersama tiga rekannya yang lain, ia
mendirikan pabrik sepatu anak-anak yang semua produknya diekspor. “Dengan
bekal kredit tersebut saya belikan 20 mesin jahit merek Butterfly,”
ujarnya suatu saat kepada Eksekutif.

Kini pengusaha kelahiran 16 Juni 1962 itu menjadi figur sukses yang sangat
sibuk. Ketika Eksekutif meminta kesempatan untuk sebuah wawancara khusus,
ia mengaku kerepotan untuk memilih waktu yang tepat. Meklum, selain sibuk
mengurus bisnis, pria satu ini juga punya segudang kegiatan kemasyarakatan.
Sebelum terpilih menjadi ketua umum PB PBSI beberapa waktu lalu, Chairul
telah aktif di berbagai organisasi sosial seperti PMI, Komite Kemanusiaan
Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan
sebagainya. “Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan
sosial kemasyarakatan,” ungkapnya. (Tokoh Indonesia, Repro Eksekutif No.
269)

Tokoh Bisnis

Warta Ekonomi 28 Desember 2005 menganugerahi Chairul Tanjung,
Komisaris Utama Grup Para sebagai salah seorang tokoh bisnis paling
berpengaruh tahun 2005. Prestasinya, dinilai tak sesederhana
penampilannya. Tiga pilihan bidang bisnisnya, keuangan, properti, dan
multimedia, menunjukkan kinerja yang nyaris sempurna. Chairul Tanjung
adalah rising star.

Sulit membayangkan seorang dokter gigi terjun bebas ke dunia bisnis.
Namun, tidak bagi Chairul Tanjung, komisaris utama Grup Para. Semasa
kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, Chairul muda sudah mulai berani
berjualan untuk mengasah kemampuannya berbisnis. Nalurinya kian terarah
ketika bisnis sepatunya, yang memperoleh pinjaman dari Bank Exim, makin
berkembang.

Orang nomor satu di Grup Para ini adalah sosok yang bersahaja.
Penampilannya sederhana, tetapi sangat tajam dalam menerjemahkan visi
bisnisnya. Chairul mereposisikan kelompok usahanya dalam tiga bisnis
inti: keuangan, properti, dan multimedia.

Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya
menjadi Bank Mega. Kini bank ini menjadi salah satu bank papan atas.
Hingga September 2005, Bank Mega memiliki nilai buku asetnya mencapai
Rp1,5 triliun. Tahun 2005 ini sejumlah investor asing dari Eropa dan AS
sudah mengajukan surat resmi untuk membeli saham Bank Mega seharga tiga
kali lipat dari nilai bukunya. Selain bank, Chairul juga memiliki
perusahaan sekuritas dan mulai merambah bisnis asuransi jiwa dan
kerugian.

Di bisnis properti, pria kelahiran Jakarta ini mempunyai Bandung
Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana Rp99 miliar. Itu
pun belum semua area dibangun. Rencananya, di sisa lahan 8 hektar ia
akan membangun hotel, restoran, dan bangunan pendukung lainnya.

Bisnis Chairul yang paling moncer adalah Trans TV dengan 21 menara yang
mencakup seluruh Jawa, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan
Papua. Pada akhir 2005 dia berharap seluruh Indonesia bisa di-cover,
dengan menambah menara sampai 31—32. Investasi untuk satu menara
diperkirakan Rp3—5 miliar. Chairul sangat optimistis di bisnis ini
karena melihat belanja iklan nasional sudah mencapai Rp6 triliun, dengan
70% di antaranya akan masuk ke TV.

Ia pun berencana mendirikan stasiun radio dan media online atau satelit.
Target lainnya adalah bersiap masuk ke media cetak. Dua-tiga tahun
setelah Trans TV mendapatkan keuntungan, ia berencana melepas 20%—30%
sahamnya ke pasar modal. Dana hasil IPO ini akan ia alokasikan untuk
pengembangan usaha dan membayar utang.

Saking banyaknya, Chairul mengaku sampai tak tahu berapa jumlah
perusahaannya. Namun, yang jelas, Grup Para mempunyai Para Inti Holdindo
sebagai holding company, yang membawahkan beberapa subholding: Para
Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan
investasi), dan Para Inti Propertindo (properti). Kini ia mempekerjakan
5.000 karyawan

CEO yang tadinya hanya seorang GURU

Inilah kisah sukses yang sangat membakar semangat karena seorang mantan guru sekarang jadi CEO dan punya perusahaan beromzet triliunan rupiah!

Ingin membeli kancing baju dari China? Atau mesin-mesin besar? Tinggal masuk ke alamat situs Alibaba.com. Dalam satu kali klik, terpampanglah ratusan, bahkan ribuan produsen China. Mulai dari peraut pensil hingga barang yang besar dan rumit pengejaannya. Minimal ordernya pun cukup besar, ada yang 500 unit atau bahkan 10.000 unit.

Sebagian pemasok di Alibaba.com adalah perusahaan usaha kecil dan menengah (UKM). Alibaba.com telah menjadi situs business to business terbesar yang menghubungkan produsen di China dengan dunia.

Sama seperti dalam hikayat Seribu Satu Malam, ketika Alibaba meniru para perampok mengucapkan mantera ”Sesam, buka pintu”, terbukalah pintu ke negara pengekspor nomor dua terbesar di dunia itu.

Pengguna Alibaba.com sudah mencapai 8 juta dan pendapatannya terus meningkat. Akhir tahun lalu pendapatan Alibaba.com naik 39 persen menjadi 440 juta dollar AS. Belakangan Alibaba.com juga menyediakan Aliexpress untuk para konsumen yang diperbolehkan memesan satu unit barang saja.

”Kecil itu indah. UKM menyediakan mesin penggerak pertumbuhan ekonomi di Asia dan mereka adalah masa depan e-commerce,” ujar CEO dan pendiri Alibaba.com, Jack Ma, pada Pertemuan Tingkat Tinggi UKM APEC di Singapura, Kamis (12/11). Ma mengungkapkan, mekanisme pembiayaan atau dukungan kepada UKM belum maksimal karena belum ada mekanisme standar yang dapat digunakan.

”Pada tahun 1999 kita memprediksi bahwa pemenang dalam bisnis internet adalah udang, bukan paus. Delapan tahun kemudian pengalaman membuktikan, perusahaan yang mendapatkan manfaat utama dari e-commerce adalah UKM yang menggunakan internet untuk memasarkan produk mereka atau untuk menemukan relasi bisnisnya di seluruh dunia,” lanjut Ma penuh semangat. Penampilan mantan guru ini tetap sederhana, dengan menggulung lengan panjang bajunya hingga ke siku.

Menurut dia, UKM layak mendapat perhatian karena semua bisnis besar berawal dari langkah kecil. ”Seperti bayi, semua orang tahu bahwa bayi ini akan tumbuh. Semua pelaku bisnis akan sukses karena mereka yakin akan keberhasilannya. Mereka berhasil karena terus menjaga mimpi besarnya. Orang bisa tahan satu minggu tanpa makanan, tiga hari tanpa minuman, tetapi orang akan mati jika kehilangan harapan dalam satu menit saja,” tutur Ma.

Ma sudah mengalami hal ini. Situs Alibaba.com tidak serta-merta besar seperti sekarang ini. Menurut dia, kesuksesan Alibaba.com tidak lain karena ”Kami tidak memiliki uang, teknologi, dan rencana ke depan,” ujarnya suatu ketika. Jack Ma menyatakan tidak pernah sekali pun menyangka akan sukses di bisnis online. Dia mantan guru bahasa Inggris, bukan seorang teknisi komputer.

Minat Ma pada bahasa Inggris membawa dia keluar China dan memiliki pandangan lebih luas. Pada umur 12 tahun dia sudah tertarik belajar bahasa Inggris. Dalam delapan tahun masa kecilnya dihabiskan dengan bersepeda 40 menit menuju sebuah hotel di dekat Danau Hangzhou, sekitar 160 kilometer dari Shanghai. Ketika itu China baru mulai membuka diri dan mulai banyak turis yang datang ke China. Ma memberanikan diri menjadi pemandu gratis agar dapat cas-cis-cus mempraktikkan bahasa Inggris-nya. Pengalaman selama delapan tahun itu membuat pemikiran Ma lebih terbuka dan lebih mengglobal dibandingkan teman-teman sebayanya.

Ma membulatkan tekadnya belajar bahasa Inggris, tetapi perjalanan masuk menjadi mahasiswa tidaklah mudah. Dia harus mengikuti ujian masuk universitas sampai dua kali. Akhirnya, Ma diterima di Universitas Keguruan Hangzhou, semacam institut keguruan dan ilmu pendidikan pada masa lalu. Ma belajar menjadi guru sekolah menengah. Menurut dia, universitas tempatnya bekerja tidak begitu bagus kualitasnya.

PINJAM UANG

Lulus dari universitas, Ma adalah satu-satunya dari 500 mahasiswa seangkatannya yang ditugaskan mengajar di universitas. Ketika itu gaji Ma sebulan sebesar 100-120 renminbi, setara dengan Rp 114.000-Rp 142.500 per bulan. Ma selalu memimpikan, setelah bertugas mengabdikan dirinya selama lima tahun, dia akan memulai bisnis hotel atau yang lain.

”Pada tahun 1992 perekonomian China sudah mulai bertumbuh, saya melamar banyak sekali posisi, tetapi tidak ada yang lolos. Akhirnya saya menjadi sekretaris general manager gerai penjual ayam goreng Kentucky Fried Chicken,” kata Ma. Dia juga menjadi penerjemah sebuah delegasi perdagangan.

Seorang teman kemudian memperlihatkan internet untuk pertama kalinya. Ketika Ma mencari kata beer di mesin pencari Yahoo, dia menemukan kenyataan bahwa tidak ada data tentang China. Mereka lalu membuat situs tentang China.

Ma semakin tertarik pada komputer dan meminjam uang 2.000 dollar AS dari kerabatnya untuk mendirikan perusahaan komputer. Padahal dia tidak mengerti tentang komputer ataupun surat elektronik. Dia bahkan tidak pernah menyentuh keyboard komputer sebelumnya. ”Rasanya seperti orang buta yang menunggangi macan buta,” katanya.

Perusahaan itu bersaing dengan perusahaan telekomunikasi raksasa China, China Telecom, selama satu tahun. Akhirnya, China Telecom menawarkan berinvestasi pada perusahaan Ma sebesar 185.000 dollar AS. ”Itu adalah uang terbanyak yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya,” kenang Ma.

Sayangnya, Ma hanya kebagian satu kursi dewan direksi. Setiap hal yang diusulkan langsung ditolak mentah-mentah. Ma mengandaikan keadaan itu seperti gajah dan semut. Mimpi memiliki perusahaan sendiri tidak juga padam.

Perjalanan Alibaba.com bukannya tidak tanpa hambatan. Pada tahun 2002 dana tunai hanya tersisa untuk bertahan selama 18 bulan. ”Kami memiliki banyak anggota yang menggunakan situs kami, tetapi tidak tahu apakah kami bisa mendapatkan uang. Kami mempertemukan eksportir barang dari China dengan pembeli dari AS. Model ini menyelamatkan kami. Pada akhir 2002 kami berhasil membukukan keuntungan sebesar 1 dollar AS. Setiap tahun keuntungan kami bertambah-tambah,” katanya.

Menjadi perusahaan publik juga titik balik penting. Alibaba.com berhasil meraup dana penawaran saham perdana 1,7 miliar dollar AS di Bursa Saham Hongkong pada November 2007. Itu merupakan penawaran saham perdana (IPO) internet terbesar sejak IPO Google di Nasdaq.

Ma telah berhasil mewujudkan mimpi besarnya menjadi kenyataan walaupun tidak mulus dan selalu ada hambatan. kompas.

Merintis Usaha

Cara Gampang Pengusaha

Banyak orang berminat jadi pengusaha, karena profesi ini punya kemungkinan penghasilan yang jauh lebih besar daripada jadi karyawan. Sayangnya, mereka lebih sering berpikir daripada bertindak. Ujung-ujungnya, mereka terpenjara di alam pikiran mereka sendiri, tanpa sekalipun mencoba atau bertindak.

Buat saya, menjadi pengusaha itu gampaaang. Modalnya hanya satu. Bukan uang, tapi kemampuan berjualan. Jika anda mau jadi pengusaha kaya, tambah satu syarat lagi, yaitu kemampuan mengelola uang. Kalau setiap saat anda mengasah dua kemampuan itu, insya Allah anda jadi pengusaha kaya, seperti nabi Muhammad. Beliau jadi pengusaha, nyaris tanpa modal. Mulai dari menjual tenaga sebagai penggembala kambing. Dilanjutkan dengan menjual tenaga dan pikiran sebagai pedagang pada perusahaan dagang ummi Khadijah. Dan sukses beliau sebagai pedagang tidak lagi bisa terhalangi.

Oh iya. Tambah satu lagi. Sepanjang perjalanan meningkatkan kemampuan berjualan, jaga kepercayaan konsumen anda. Jangan sekalipun berkhianat. Itu lah sebabnya, nabi Muhammad sudah bergelar Al-Amiin sebelum beliau diangkat jadi nabi.

Berikut, sedikit ilustrasi sederhana yang bisa anda jalani. Tentu saja dengan mengesampingkan rasa malu, malas dan takut. Malu kalau bertemu teman atau calon mertua ketika berjualan. Malas menawarkan barang jualan kepada calon konsumen. Takut dicemooh atau ditolak ketika kenjajakan barang.

1. Kalau anda punya uang Rp. 5.000 – 10.000, anda bisa membeli beberapa botol Air Minum Dalam Kemasan merk apa saja di toko grosir.

2. Sebagai dasar perhitungan, harga AMDK 600 ml paling mahal Rp. 1.400 (grosir). Anda bisa jual kembali dengan harga minimal Rp. 2.000. Jadi, per botol untungnya Rp. 600. Di beberapa lokasi, harga jualnya bisa lebih tinggi, mencapai Rp. 2.500 hingga Rp. 3.000.

3. Kalau anda butuh Rp. 5.000.000, anda hanya perlu menjual paling banyak 8.500 botol AMDK.

4. Banyak banget? Tentu. Tapi mari kita perkecil. Satu hari kita punya waktu 24 jam. Waktu kerja kita asumsikan 10 jam. Mampukah kita menjual 5 botol setiap jam? Sebagai ilustrasi, siswa Institut Kemandirian ada yang berhasil menjual lebih dari 20 botol per jam. Para pedagang asongan bisa menjual lebih dari 40 botol per jam.

5. Kalau saja anda berhasil menjual 5 botol per jam, berarti dalam sehari kita bisa menjual 50 botol. Target 8500 botol tercapai dalam 170 hari (sekitar 6 bulan).

6. Bisa jual lebih banyak, target Rp. 5 juta bisa lebih cepat tercapai. Dengan uang itu, anda sudah bisa naik pangkat. Tidak lagi jadi pedagang asongan.

7. Berat di awal, tapi uang Rp. 5 juta itu adalah milik sendiri. Nggak perlu berbohong, bikin surat keterangan gaji palsu. Nggak perlu cari hutangan dari orang lain yang belum pasti. Sungguh, tidak ada kemuliaan pada orang yang berhutang.

8. Kumpulkan lah uang receh, karena lama-lama anda bisa membeli sepeda. Gunakan sepeda untuk cari\ uang, yang hasilnya terus anda kumpulkan untuk membeli sepeda motor. Gunakan sepeda motor itu untuk cari uang, uangnya dikumpulkan untuk membeli mobil. Lama-lama anda bisa jadi pengusaha taksi, atau bahkan pemegang saham di perusahaan penerbangan.

9. Mimpi? Orang cerdas bilang, sukses dibangun dua kali. Pertama dalam pikiran, berupa impian. Kedua, di alam nyata, dengan bekerja. Itu lah sebabnya, satu-satunya cara mewujudkan impian adalah bangun dari tidur, dan berusaha sampai berhasil.

10. Jangan lupa. Anda juga perlu makan. Perlu minum dan keperluan lain. Sisihkan itu dari penghasilan anda, supaya anda tidak sakit-sakitan ketika sudah kaya.

Pilihan Jenis Usaha

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!